Streaming syndrome dan penjara mental
Dunia modern memberikan akses yang mudah bagi kita. Dunia seakan berada di genggaman tangan, dengan mudahnya kita dapat berpindah ke belahan dunia lain walaupun hanya kita lihat melalui layar HP.
Tulisan ini saya ungkapkan sebagai keresahan pribadi terhadap dunia streaming. Teringat ketika seorang Host dari Korea Selatan, dia selalu melakukan live streaming menunjukan Korea Selatan itu seperti apa. Namun sayangnya, dia di bunuh oleh viewernya sendiri, sungguh miris. Mungkin kasus serupa banyak di tempat lain. Apa yang kita lihat, itu yang merasuk ke otak kita, otak kita 'dibajak' oleh live streaming.
Hal ini menimbulkan suatu keresahan, karena karakter manusia itu berbeda-beda. Kita tidak dapat menilai seseorang dari bagaimana mereka di room suatu host, karena itu kadang hanyalah fana. Gimmick seseorang untuk menjadi baik terbentuk di depan layar HP, kita tidak mengetahui di balik layar HP. Dunia streaming hanya lah suatu 'hiburan' bagi seseorang yang penat dalam kehidupan mereka yang nyata. Namun kadang ketergantungan terhadap dunia streaming menjadikan suatu keresahan, dunia virtual membentuk sesuatu yang membuat kita bahagia.
Tapi tidak semua dunia streaming itu buruk, menurut saya kadang lebih efektif daripada dating apps yang hanya swipe kanan, swipe kiri. Mungkin efek negativenya kita sebagai viewers adalah memberika gift yang kadang kita tidak sadar berapa yang telah kita habiskan. Ada hosts nyanyi, ada pula hosts yang selayaknya teman. Pengalaman pribadi saya di salah satu tempat host nyanyi dimana dia berada di Korea Selatan. Beberapa viewers terbang dari negaranya ke Korea Selatan untuk mendukung sang host.
Sebagai viewers, kadang kita terkesan 'memaksa' untuk memberikan gift yang besar dengan tujuan gengsi, atau untuk menarik perhatian si host. Ada kata, 'host makan steak, viewers makan tempe', jika di pikir ada benarnya jika mereka 'memaksa'. Sebaiknya kita memberikan gift, sebagai suatu apresiasi terhadap si host, bukannya ada udang di balik batu. Kembali lagi terhadap kasus host Korea selatan, seorang viewers baik kadang belum tentatu di kehidupan nyata dan sebaliknya. Viewer yang melakukan pembunuhan terhadap host Korea Selatan termasuk baik di room si host, tapi tidak seperti di dunia nyata. Ini yang patut di perhatikan bagi semua hosts, wajib untuk mefilter. Ingat pepatah ada udang di balik batu, mungkin ada viewers yang meberikan gift besar dengan ikhlas, namun tidak semua seperti itu. Dampak dari ini kadang bisa menjadi hal positive, maupun negative. Jadi kembali lagi kepada kita lagi, jadilah baik hosts maupun viewers yang cerdas. Jika kita sudah merasa ketergantungan, sebaiknya refresh pikiran terlebih dahulu. Jauhkan dari streaming, cobalah bertahan walaupun itu susah. Karena sesuatu yang menjadi ketergantungan itu, kadang susah untuk tidak menjadi ketergantungan.
Wak Gan- 26/08/2026
Comments
Post a Comment